Blog Seorang Dev

Blog Seorang Dev

Jalan Mimpi Mahasiswa Yang Penuh Distraksi

Demi mencapai apa yang dicita-cita, kita mencoba apa aja yang bisa mendekatkannya.

Jalan Mimpi Mahasiswa Yang Penuh Distraksi

Intro

Teringat ketika masih jadi maba dengan semangat membara; membanggakan keluarga, berguna bagi sesama, serta sukses dunia akhiratnya adalah tujuan kita.

Berbagai doktrin yang memprovokasi dan segudang mantra yang memberi imajinasi indah di masa nanti sukses menjadi bara api.

Akhirnya berujung Ikut organisasi dan kepanitiaan sana-sini, seminar dan kursus sana-sini, serta kegiatan lain yang kalau disebutkan bisa infinity.

Semuanya dijabani demi upgrade diri, menghilangkan kegersangan data diri, dan mencapai apa yang diyakini.

Pilihan Yang Tidak Mudah

Sayang akibat banyaknya opsi, ngga jarang yang sedang dijalani berujung kehilangan kemantapan diri.

Perlahan namun pasti, kesibukan sana-sini mulai bermanifestasi jadi beban hati.

Tapi bukan generasi kini rasanya kalau tidak dipendam sendiri.

Dengan keyakinan anak muda yang merasa waktu dan tenaganya ngga ada batasnya, semangat yang jadi modal pun akhirnya membukakan banyak wawasan yang tidak ada habisnya.

Demi mencapai apa yang dicita-cita, kita mencoba apa aja yang bisa mendekatkannya.

Amplifikasi

Sayangnya kita sendiri punya problematika yang masih tanda tanya, ditambah kondisi dunia yang mengharuskan di rumah aja, realita tidak seindah utopia.

Melakukan semuanya didepan layar kaca sudah dianggap biasa.

Pojokan yang dulunya buat hal pribadi, sekarang harus berbagi.

Menatap benda mati dari bangun pagi sampai tidur lagi, memastikan baterai dan koneksi selalu ready, demi tuntutan terjalinnya komunikasi.

Konsepsi pembagian waktu yang mulai tidak ada arti membuat rutinitas padat nan menguras energi yang usually kuat dijalani mulai menggerogoti kewarasan diri.

Distraksi

Kita bicara distraksi, teman lama yang kini makin tak terkendali semenjak pandemi.

Selain distraksi sebab menjadi budak notifikasi, ada juga distraksi sebab diri sendiri. Penggunaan alat tempur[1] serba bisa yang tadinya mengiluminasi, sekarang balik mengancam sebab lepas kontrol diri.

Kemajuan Semu

Lekatnya kita dengan benda serba bisa yang satu ini[1] membuat akses informasi, hiburan, hingga pekerjaan semudah menggerakkan jari. Sayangnya tanpa kontrol yang mumpuni, benda ini bisa merugikan diri sendiri.

Stimulasi hebat dari aliran informasi tak terbatas membuat jari menari ke sana ke mari memutar roda mouse tanpa henti. Berujung menghabiskan waktu untuk menjelajahi apapun yang kita temui. Alasan untuk wawasan diri[2] pun terlontar sebagai justifikasi.

Sayang, fokus jadi buyar dihantam badai informasi. Menjadikan kegiatan ini terlewat tanpa meninggalkan arti.

Bibit distraksi pra maupun saat pandemi pun tidak begitu ada diferensiasi. Sama-sama menginginkan banyak activity demi percepat upgrade diri untuk realisasi mimpi yang telah lama diaamiini.

"Waktu itu terbatas, sedangkan yang ingin dilakukan selalu bertambah."

Titik Kritis

Menyadari tenggat realisasi mimpi datang sebentar lagi (e.g. ganti semester, selesai studi), membuat momentum retrospeksi diri datang silih berganti. Bayangan waktu lampau yang terlewat tanpa memberi kontribusi mulai menggentayangi. Semua terjadi dari semangat tanpa kontrol yang menjadi distraksi dan berujung melahap sana sini[3].

Hilangnya fokus bisa jadi diikuti redupnya semangat dan ambisi. Kelelahan mental[4] pun mungkin tidak dapat dihindari. Cita-cita kian terlupa dan menjadi pasrah saja. Motivasi mewujudkan mimpi berubah menjadi yang penting dapat gaji.

Koreksi

Tumbuh bersama teknologi dan keterbukaan informasi adalah sebuah berkah dan kutukan tersendiri. Distraksi akibat stimulasi derasnya kran informasi menjadi problematika kita sebagai mahasiswa dan mungkin juga generasi kini. Saatnya sejenak memutus koneksi untuk mengambil kesadaran dan kontrol diri, demi menyirami mimpi agar dapat mekar kembali.

Penutup

Terimakasih sudah mampir kesini! semoga mimpi yang kamu yakini bisa terealisasi. Perjuangan kamu layak diapresiasi. Terus jaga kewarasan diri, dan sampai bertemu lagi!

Catatan:

  • [1] PC / Smartphone
  • [2] Sebenarnya sih karena Fear of Missing Out (FOMO)
  • [3] Bukan berarti belajar banyak hal itu buruk. Hanya saja kalau tidak fokus dan setengah-setengah hasilnya tidak sepadan dengan waktu dan tenaga yang dihabiskan.
  • [4] Burnout

Bacaan Lanjut:

 
Share this