Rohmad Fajarudin

Rohmad Fajarudin

Apakah Kita Layak Menyebut Diri Sebagai Programmer? - Debuggin!

Apakah Kita Layak Menyebut Diri Sebagai Programmer? - Debuggin!

Versi Video

Intro

Apakah Kita Layak Menyebut Diri Sebagai Programmer.mp4_snapshot_00.08.000.jpg

Menjadi programmer adalah salah satu pekerjaan yang menjanjikan, bahkan tidak sedikit dari mereka yang latar belakangnya bukan dari jurusan IT.

Ada sekitar 26,4 juta programmer di dunia ini [1], dengan bidang fokus dan latar belakang yang berbeda-beda.

Pengen Jadi Programmer

Apakah Kita Layak Menyebut Diri Sebagai Programmer.mp4_snapshot_00.30.000.jpg

Dengan keinginan kuat menjadi bagian kecilnya, kita berkomitmen menjadi programmer, dengan harapan bisa mewujudkan sesuatu yang menjadi tujuan kita selama ini.

Kita berkorban waktu, tenaga, pikiran, kehidupan sosial, dan bahkan bertahan dengan status jomblo kita agar bisa fokus belajar menjadi programmer handal.

Siang berganti malam, bulan berganti tahun, dan akhirnya kita berhasil melewati jurang yang berisi kegagalan, stress, dan frustasi kita demi mencapai apa yang menjadi tujuan.

Hingga sampailah di sebuah titik dimana ketika kita melihat sebuah kodingan nggak lagi menyeramkan, bahkan nggak perlu usaha lebih untuk bisa memahaminya dengan cepat, ibaratnya udah kayak jadi makanan sehari-hari kita.

Mulai Krisis

Apakah Kita Layak Menyebut Diri Sebagai Programmer.mp4_snapshot_01.19.625.jpg

Dan tibalah suatu ketika, kita menemui masalah yang ngga bisa diselesaikan dengan ilmu yang sudah dipelajari selama ini, kita merasa sulit untuk memahaminya, dan bahkan merasa nggak yakin bisa menyelesaikannya.

Kita mulai mempertanyakan ke diri sendiri, ngapain aja kita selama ini? apakah kita layak jadi programmer? apakah menjadi programmer adalah keputusan yang salah buat kita?

Ada "Impostor" Dalam Diri Kita

Kita sedang merasakan fenomena yang disebut sebagai “Impostor Syndrome”.

Apakah Kita Layak Menyebut Diri Sebagai Programmer.mp4_snapshot_01.43.447.jpg

Tapi, bukan! bukan impostor yang itu.

Singkatnya, Impostor Syndrome adalah fenomena psikologi yang kita rasakan karena merasa kita telah melakukan penipuan atas apa yang kita capai [2].

Jika dihubungkan dengan kasus kita maka, kita merasa nggak layak menjadi programmer karena takut orang lain menganggap kita asal aja mengklaim diri adalah seorang programmer, tapi ngga bisa membuktikan kemampuan itu.

Meskipun faktanya pencapaian kita sejauh ini adalah nyata dan murni karena ilmu yang sudah kita dapatkan dari usaha dan perjuangan kita.

Dan kita ngga sendiri. Faktanya ada hampir 82% [3] orang di dunia ini yang mengalami hal yang sama. Dalam survei lain, ada sekitar 58% [4] orang yang bekerja di bidang teknologi yang juga merasakannya.

Tapi tenang, fenomena ini bukanlah tanda adanya penyakit mental. Ini adalah fenomena yang sangat normal selama tidak berkepanjangan.

Kalo gitu apa yang bisa kita lakukan?

Emergency Meeting

1. Impostor Syndrome tidak selalu buruk untuk kita.
Karena ini bisa juga sebagai pengingat kita untuk tetap rendah hati dan tidak arogan karena faktanya semakin kita tahu, semakin kita ngga tau.

2. Kita merasakannya karena sedang berjuang keluar dari zona nyaman untuk mempelajari hal baru.
Dan kita mungkin harus mulai membiasakannya. Nggak tahu akan sesuatu itu wajar, karena nggak ada orang di dunia ini yang tahu semuanya, terima kenyataan bahwa kita harus melewati siklus belajar yang berulang. Kadang kita sedikit tahu, kadang kita nggak tau sama sekali.

3. Jangan membandingkan diri kita dengan orang lain.
Semua orang punya cerita perjalanannya sendiri, bahkan kita sendiri punya sesuatu yang orang lain tidak punya. Tapi kita juga harus bersahabat dengan kenyataan bahwa akan selalu ada orang yang lebih pintar dari kita diluar sana. Jadi fokuslah dengan tujuan belajar kita.

4. Ingat kembali "si dia" yang bikin bahagia.
Untuk mengembalikan semangat, coba ingat kembali momen bahagia yang kita rasakan saat berhasil memecahkan masalah pemrograman.

5. Spesies Manusia belum punah.
Dan yang terakhir, kita tidak sendiri. Bergabunglah ke komunitas agar bisa berdiskusi mengenai masalah yang sedang kita selesaikan.

Wrapping Up

Jadi kesimpulannya, apa yang kita rasakan adalah fenomena yang bernama Impostor Syndrome. Sebuah fenomena yang wajar dan bukanlah tanda penyakit mental karena hampir semua orang merasakannya.

Dan tergantung bagaimana kita menyikapinya, fenomena ini bisa membuat kita malah semakin berkembang.

Tapi kita juga harus berhati-hati untuk tidak menyepelekan fenomena ini. Kalo kamu kesulitan mengatasinya, sebaiknya segeralah berkonsultasi ke psikiater.

Untuk disclaimer, semua saran yang disebutkan sebelumnya adalah dari pengalaman pribadi serta referensi dari berbagai sumber yang dirasa sesuai, bukan didasarkan dari para ahli.

Semoga konten ini bisa beresonansi dan menambah semangat kamu.
Saya Rohmad, Stay Ngoding, dan Terima kasih!

References

[1] evansdata.com/press/viewRelease.php?pressID..
[2] frontiersin.org/articles/10.3389/fpsyg.2019..
[3] ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7174434
[4] teamblind.com/blog/index.php/2018/09/05/58-..
[5] abc.net.au/triplej/the-latest/impostor-synd..
[6] geeksforgeeks.org/imposter-syndrome-in-soft..

 
Share this